Sugihart Digital Art Gallery
Sanggar Bambu Kehilangan Pilar Sanggar Bambu Kehilangan Pilar
Dunia seni dirundung duka hari ini, salah satu pendiri dari komunitas seni ternama asal Yogyakarta, Sanggar Bambu, telah menghembuskan nafas terakhirnya hari ini. Soenarto... Sanggar Bambu Kehilangan Pilar

Dunia seni dirundung duka hari ini, salah satu pendiri dari komunitas seni ternama asal Yogyakarta, Sanggar Bambu, telah menghembuskan nafas terakhirnya hari ini. Soenarto Prawirohardjono atau akrab disapa Soenarto Pr tutup usia pada umur 86 tahun. Berita kepulangan Soenarto diketahui dari laman Facebook milik Anton Sutopo yang berbunyi “Inalilahi wainalilahi rojiun Telah berpulang dengan damai Eyang Sunarto pr.semoga amal ibadahnya ditrima Alloh Swt.Amin” bersama dengan foto Soenarto Pr yang tengah duduk di atas kursi roda.

Semasa hidupnya, Soenarto dikenal sebagai pribadi yang tangguh dan ulet. Terbukti dalam perjalanannya sebelum menjadi seniman ternama seperti sekarang, ia tak hentinya belajar baik dalam Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta maupun di luar akademi. Salah satu nama yang ikut andil dalam proses belajar Soenarto adalah pelukis tersohor, Affandi, yang juga salah seorang dosen di ASRI.

Sifat tekunnya ini pun masih lekat bahkan ketika usianya sudah mulai sepuh, ia kerap menolak untuk duduk di kursi roda dan lebih memilih menggunakan alat bantu berjalannya yang berkaki empat. Selain itu, meskipun memakan proses lebih lama, Soenarto masih aktif melukis hingga tahun 2017 lalu. Hal ini dikarenakan kecintaannya terhadap dunia seni yang sudah mengakar di dalam darahnya sejak ia berumur tiga tahun.

Soenarto mendirikan Sanggar Bambu bersama kedua seniman lainnya yang juga merupakan sahabat karibnya yaitu Heru Sutopo dan Kirdjomuljo. Awalnya, sebelum dijadikan Sanggar Bambu, tempat yang beralamat Jl Gendingan No 115, Bantul, Yogyakarta, tersebut merupakan rumah milik ibu dari Heru Sutopo. Kemudian Sutopo yang prihatin dengan keadaan Soenarto yang tidak memiliki sanggar kendati dirinya adalah seorang pelukis, mengusulkan untuk mulanya meminjamkan rumah ibunya sebagai sanggar Soenarto.

Tawaran tersebut ditanggapi Soenarto dengan senang hati, dan akhirnya ketiga perupa tersebut memutuskan untuk mendirikan Sanggar Bambu pada 1 April, 1959. Sanggar yang tahun ini berumur 59 ini telah melahirkan banyak karya maupun tokoh yang bergelut di bidang seni ternama. Karya-karya yang dihasilkan antara lain monumen Gatot Subroto di Purwokerto, monumen Ahmad Yani di Jakarta, rangkaian patung kisah Panji Asmarabangun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan masih banyak karya lainnya. Sedangkan tokoh-tokoh ternama yang terlahir dari Sanggar Bambu antara lain seniman Danarto, budayawan Emha Ainun Najib, penyanyi Ebiet G. Ade, sastrawan Arifin C Noer, dan lainnya.

Atas nama seni, kita patut berterimakasih atas jasa Soenarto yang memberi andil besar dalam pertumbuhan seni di Indonesia. Meskipun kelak namanya akan terlupakan, tapi jasa nyata yang dihasilkan akan tetap lekat dalam ingatan. Selamat berisitrahat, Soenarto Pr. Terima kasih atas jasamu dalam membangun seni Indonesia. (mip)

 

 

Sumber: Sanggar Bambu Wiki

Majalah Tempo

 

admin

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *