Sugihart Digital Art Gallery
Sanggar Bambu Yogyakarta Sanggar Bambu Yogyakarta
Ebiet G Ade, Arifin C. Noer, Emha Ainun Najib. Siapa yang tak kenal nama-nama tersebut? Para penggiat seni yang terjun di beragam bidang seni... Sanggar Bambu Yogyakarta

Ebiet G Ade, Arifin C. Noer, Emha Ainun Najib. Siapa yang tak kenal nama-nama tersebut? Para penggiat seni yang terjun di beragam bidang seni berbeda ini ternyata memiliki kesamaan. Ketiganya sama-sama datang dari sebuah komunitas dari Yogyakarta bernama Sanggar Bambu sebelum namanya jadi besar seperti sekarang.

Sanggar bambu sendiri sudah berdiri semenjak 1 April 1959 yang membuat sanggar ini berumur 58 tahun pada April lalu. Sanggar bambu lahir dari sebuah percakapan ketiga seniman yang kala itu sedang berbincang ringan sambil menyelesaikan sebuah proyek yang ditugaskan kepada salah seorang di antara mereka.

Kirdjomuljo, Heru Soetopo, dan Soenarto Pr tengah asyik tenggelam dalam kegiatan mereka mendekor sebuah tempat pementasan teater di Gajahan sebelum Kirdjomuljo melontarkan pertanyaan mengenai nihilnya sanggar yang dimiliki Soenarto Pr kendati profesinya sebagai pelukis. Heru Sutopo yang mengiyakan keheranan Kirdjomuljo pun menawarkan sebuah tempat tinggal milik ibunya untuk dijadikan sanggarnya untuk sementara.

Bak dapat durian runtuh, Soenarto dengan senang hati menyambut tawaran dari Heru Sutopo dan lalu menggunakan rumah yang beralamatkan Jalan Gendingan Nomor 115, Yogyakarta, tersebut sebagai sanggarnya.

Pemilihan nama Sanggar Bambu bukan tanpa alasan, Soenarto mengaku terinspirasi dari pementasan Teater Indonesia di Malang bertajuk “Puisi Rumah Bambu” yang liriknya dibuat oleh Kirdjomuljo. Kala itu Soenarto bertugas untuk mendekor tempat pementasan tersebut.

“Sanggar Bambu tidak berpartai, non-afiliasi partai, dan individu sekaligus sebagai bangsa,” kata Soenarto dalam pidato pendirian Sanggar Bambu.

Bukan hanya seniman-seniman handal yang pernah menapakkan kakinya di sanggar bambu, beberapa karya tersohor negeri pun ikut menjadi saksi bisu atas perjuangan seniman-seniman di sanggar bambu. Sebut saja Monumen Gatot Subroto di Purwokerto, Monumen Ahmad Yani di Jakarta, dan serangkaian patung kisah Panji Asmarabangun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Monumen-monumen tersebut adalah adikarya yang kerap kita lewati atau temui di jalan yang terbentuk melalui perjalanan panjang dari setiap tangan yang tak kenal lelah dalam mencipta meski acapkali terabaikan. Setiap seniman memiliki tujuan, setiap karya memiliki makna. Banyak cara untuk menghadirkan makna dalam sebuah karya, yang paling mudah adalah mengapresiasi dengan mencoba memahaminya. (mip)

 

 

Sumber: Majalah Tempo

Sumber Gambar: citralekha.com

@rsipIVAA

admin

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *