Sugihart Digital Art Gallery
Pujangga Rahseta, Uwalmassa, dan Musik Kontemporer Pujangga Rahseta, Uwalmassa, dan Musik Kontemporer
  Musik merupakan salah satu aspek yang akrab kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Jenis atau genre dari musik pun beragam, mulai dari musik pop,... Pujangga Rahseta, Uwalmassa, dan Musik Kontemporer

 

Musik merupakan salah satu aspek yang akrab kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Jenis atau genre dari musik pun beragam, mulai dari musik pop, rock, hip-hop, dan tak ketinggalan musik tradisional. Sayangnya, musik tradisional yang datangnya dari negara sendiri, terkadang terkesan kurang diminati sehingga dikhawatirkan eksistensinya akan menguap.

Pujangga Rahseta atau yang akrab dipangigl Django ini adalah satu dari sekian anak muda asal Yogyakarta yang tumbuh dengan alunan musik gamelan, tabuhan gendang Jawa, dan musik tradisional khas Jawa secara umum. Django yang mengikuti perkembangan zaman, mulai tertarik pada musik beraliran elektro, yang dapat dibilang berbanding terbalik dengan jenis musik yang ia kenal selama ia tumbuh di Yogyakarta.

Berbekal kecintaannya terhadap musik elektro dan tumbuh dengan musik khas Jawa, Django pun membuat sebuah band dengan nama Uwalmassa yang merupakan sebuah band akustik dan elektro. Pada Art Jakarta lalu, Django sendiri mengatakan bahwa Uwalmassa menganut aliran kontemporer, yaitu memadukan musik tradisional dengan musik modern yang pada Uwalmassa adalah musik elektro.

Penggemar dari Uwalmassa sendiri datang bukan hanya dari Indonesia. Uwalmassa tercatat tampil di Rotterdam, Russell, dan berbagai negara di Eropa. Ketika tampil di Eropa, Uwalmassa membawa kecapi dan gendang Jawa sebagai instrumen panggung mereka yang juga memberikan identitas tersendiri bagi Uwalmassa.

Selain membawa instrumen khas Jawa, Uwalmassa juga membawa suasana nusantara dalam visual panggungnya. Setiap tampil, Uwalmassa terus mengembangkan gaya panggungnya dengan visual panggung khas Indonesia seperti topeng dan juga gaya bermusik mereka.

Ketika tampil di Berlin, Jerman, Django bertemu dengan salah satu orang Jerman yang berpendapat bahwa ia dan beberapa orang dari Barat lebih tertarik dengan jenis musik kontemporer seperti misalnya Senyawa dibanding dengan musik yang benar-benar tradisional. Menurut mereka, musik seperti itulah yang merupakan nyawa dari Indonesia.

Dalam diskusinya, Django juga mengatakan bahwa seni rupa dan musik di Indonesia memiliki sebuah pertanyaan yang sama: seperti apakah seni rupa dan musik di Indonesia? Toh, Indonesia awalnya tidak mengenal seni dan musik. Yang kemudian ia mengutip kalimat dari salah satu pelukis ternama, S Sudjojono:

“The ‘-ism’ in paintings is not merely property of the west, but it (the idea) belongs to the mankind.”

Jadi menurut S Sudjojono, meskipun banyak teori diciptakan dan dikembangkan di Barat, namun ketika disebarkan, teori tersebut sudah menjadi milik umat manusia. (mip)

admin

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *