Sugihart Digital Art Gallery
Ludruk: Hiburan Berseni yang Merakyat Ludruk: Hiburan Berseni yang Merakyat
Jauh sebelum berkembangnya televisi di Indonesia, rakyat Indonesia membuat sendiri beragam bentuk dan jenis hiburan yang dapat dinikmati oleh beragam kalangan. Salah satu hiburan... Ludruk: Hiburan Berseni yang Merakyat

Jauh sebelum berkembangnya televisi di Indonesia, rakyat Indonesia membuat sendiri beragam bentuk dan jenis hiburan yang dapat dinikmati oleh beragam kalangan. Salah satu hiburan yang pernah berjaya pada masanya adalah ludruk. Ludruk merupakan seni berteater yang bersifat menghibur dan menyasar kalangan menengah ke bawah. Karena itu, seni yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur, ini menggunakan bahasa yang cenderung lugas dan tidak bertele-tele. Bahasa yang digunakan sendiri adalah bahasa Jawa Timuran khas Surabaya. Namun tidak sedikit juga pemain yang berasal dari Malang, Jombang, dan lainnya yang ikut meramaikan dengan logat yang bervariasi.

Dilansir dari jawatimuran.net, secara etimologis kata ‘ludruk’ berasal dari kata dalam bahasa Jawa molo-molo dan gedrak-gedruk. Molo-molo memiliki arti mulut yang penuh dengan tembakau sugi (dan kata-kata, yang pada saat keluar tembakau sugi) tersebut hendak dimuntahkan dan keluarlah kata-kata yang membawakan kidung dan dialog. Gedrak-gedruk sendiri kakinya yang menghentak pada saat menari di pentas.

Salah satu hal unik dari pementasan ludruk ini adalah seluruh pemainnya didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut konon dikarenakan penemu dari ludruk, yang dalam beberapa versi bernama Alim dan versi lainnya mengatakan namanya Gangsar, sedang berjalan-jalan dan di tengah perjalanannya ia bertemu dengan seorang lelaki yang tengah mengenakan pakaian wanita di depan anaknya yang menangis.

Ketika ditanya, lelaki itu menjawab bahwa ia berpakaian seperti itu karena ingin menghibur anaknya dan berpikir bahwa ia sedang digendong oleh ibunya. Penemu ludruk tersebut menganggap hal tersebut kocak dan terhibur dengan pemandangan yang ada, lalu membuat ludruk dimainkan oleh hanya laki-laki dan peran perempuan dimainkan oleh laki-laki dengan pakaian wanita.

Cerita dari ludruk didominasi oleh cerita-cerita rakyat, terkadang menceritakan tokoh-tokoh ternama di Surabaya maupun Jawa Timur, dan tak jarang bercerita fiksi alias karangan dari kehidupan sehari-hari. Ini karena ludruk memang ditujukan sebagai sarana hiburan dengan sasaran masyarakat menengah ke bawah sehingga dibuat praktis dan tidak terlalu rumit. Tak jarang juga terdapat selipan-selipan kritik sosial dalam pementasan ludruk yang dibungkus dengan lelucon-lelucon serta percakapan ringan antar-pemain.

Sayangnya, semakin berkembangnya zaman, pementasan ludruk makin sulit ditemukan. Masyarakat lebih gemar menonton televisi atau berkutat dengan ponsel pintarnya dibandingkan dengan harus pergi ke suatu teater atau tempat pementasan untuk sekadar mencari hiburan dan gelak tawa.

Padahal, selain sebagai sarana hiburan, ludruk merupakan kesenian tradisional khas Indonesia yang sudah berjalan puluhan tahun lamanya. Karena selain melibatkan unsur seni dalam pementasannya, ludruk juga merupakan representasi budaya yang melambangkan suku tertentu yaitu suku Jawa, atau lebih tepatnya, Jawa Timur, dengan bahasa yang digunakan serta tokoh-tokoh dan cerita yang diangkat. Maka itu, mari lebih giat melestarikan budaya Indonesia dengan mengapresiasi kesenian asli Indonesia! (mip)

Sumber: kompasiana

Jawatimuran.net

 

Sumber gambar: visitingjogja

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *