Sugihart Digital Art Gallery
Tari Lummense, Ritual Sebagai Budaya Tari Lummense, Ritual Sebagai Budaya
Indonesia dahulu merupakan salah satu negara yang warganya banyak menganut kepercayaan animisme-dinamisme atau kepercayaan terhadap hal-hal gaib dan percaya bahwa setiap benda memiliki roh.... Tari Lummense, Ritual Sebagai Budaya

Indonesia dahulu merupakan salah satu negara yang warganya banyak menganut kepercayaan animisme-dinamisme atau kepercayaan terhadap hal-hal gaib dan percaya bahwa setiap benda memiliki roh. Sebelum masuknya agama seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan Kong Hu Cu, warga Indonesia banyak melakukan ritual sebagai penghormatan terhadap roh leluhur. Biasanya pada sebuah ritual, akan disuguhkan beragam sesajen serta tari-tarian dan beberapa juga dilengkapi mantra-mantra khusus.

Salah satu ritual yang hingga sekarang masih dilakukan dengan tujuan berbeda adalah Tari Lummense dari Sulawesi Tenggara. Secara etimologis, nama Lummense berasal dari kata lumme dan ense. Lumme dapat diartikan sebagai kegiatan membuang atau membersihkan genangan air, dan ense memiliki arti menari. Jadi dapat dikatakan bahwa Lummense dipentaskan sebagai kegiatan untuk membersihkan diri dari noda, penyakit, dan dosa yang ada.

Dahulu, masyarakat tradisional Kabaena, Sulawesi Tenggara, mementaskan Tari Lummense sebagai salah satu rangkaian dari upacara tradisional Meoli untuk memanggil roh leluhur. Seperti namanya, Tari Lummense dilakukan sebagai jalan untuk membersihkan hati yang kotor serta sebagai penghormatan untuk roh leluhur sebagai penguasa. Konon, ketika Tari Lummense dipentaskan, arwah leluhur kala itu ada di tengah-tengah mereka. Karena dikatakan bahwa arwah leluhur akan merasuki penari Tari Lummense ketika mereka mementaskan tarian tersebut.

Beberapa tahun kemudian, Kesultanan Buton menjadikan Tari Lummense sebagai tarian yang dipentaskan untuk mengiringi masyarakat membuka lahan garapan juga sebagai kegiatan budaya untuk menyambut tamu agung. Secara umum, Tari Lummense dipentaskan oleh 12 orang yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Di tengah pementasan, atau dapat dikatakan sebagai klimaks dari pertunjukan Tari Lummense, salah seorang penari akan menebas batang pohon pisang secara simbolis yang menggambarkan proses pembukaan lahan garapan bagi masyarakat adat Sulawesi Tenggara.

Instrumen yang digunakan pada Meoli sendiri adalah alat musik tradisional bernama tawa-tawa berupa gong besar diiringi dengan gong kecil yang lebih dikenal sebagai ndegu-ndegu. Di tengah-tengah permainan musik, terkadang diselipkan nyanyian berupa mantra-mantra. (mip)

 

Sumber: Indonesia Kaya

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *