Sugihart Digital Art Gallery
Mengenal Lebih Dalam Kain Tenun Ikat khas NTT! Mengenal Lebih Dalam Kain Tenun Ikat khas NTT!
Kain Tenun Ikat merupakan salah satu alternatif buah tangan yang dapat Anda bawa pulang apabila Anda tengah berkunjung ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Selain... Mengenal Lebih Dalam Kain Tenun Ikat khas NTT!

Kain Tenun Ikat merupakan salah satu alternatif buah tangan yang dapat Anda bawa pulang apabila Anda tengah berkunjung ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Selain karena kain tenun jenis tersebut hanya dibuat di pulau tersebut, kita juga dapat membantu para pengrajin kain tenun di Flores untuk mencegah punahnya kain tenun ini karena pemasarannya yang sulit.

Sama seperti kain tenun tradisional lainnya di Indonesia, kain tenun ikat juga dibuat menggunakan tangan. Satu lembar kain tenun ikat dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Mulai dari pemisahan kapas dari biji, pemintalan kapas menjadi benang, pewarnaan benang tersebut, pengikatan motif, sebelum akhirnya proses menenun dimulai.

Meskipun menggunakan beberapa alat khusus seperti yang digunakan untuk memisahkan kapas dari biji serta memisahkan benang yang sudah dipintal, proses penenunan tetap didominasi dilakukan secara manual atau dioperasikan dengan tangan. Maka itu, jangan heran apabila kain tenun ikat ini dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Karena selain panjang, proses pengerjaan kain tenun ikat ini tergolong lama.

Belum lagi karena para pengrajin kain tenun ini biasanya tinggal di desa, mereka butuh menempuh perjalanan cukup panjang untuk dapat menjajakan hasil tenunnya di tempat-tempat yang sekiranya akan banyak dikunjungi turis, baik turis domestik maupun mancanegara.

Kain-kain tenun yang dibuat di Flores juga menggunakan pewarna alami yang diambil dari tetumbuhan, dedaunan, maupun buah-buahan seperti daun dan akar mengkudu, daun nira, kayu pohon hepang, kunyit, kemiri dan masih banyak lainnya. Warna-warna yang dihasilkan oleh bahan-bahan tersebut memang kurang mencolok jika dibandingkan dengan yang menggunakan pewarna sintetis, namun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti yang disebutkan di atas, dapat membantu mengurangi limbah berbahaya yang dapat merusak alam.

Beberapa wilayah yang merupakan sentra penghasil kain tenun ikat antara lain Maumere, Sikka, Ende, Manggarai, Ngada, Nage Keo, Lio, dan Lembata di bagian timur Flores. Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing dalam ragam motif, corak, maupun warna dalam pembuatan kain tenun ikat.

Namun, beberapa pengrajin harus menempuh jarak yang jauh demi menjual hasil tenunnya. Seperti beberapa pengrajin asal Desa Sikka dan Desa Nita harus rela menempuh perjalanan jauh yang bisa memakan waktu berjam-jam ke Pasar Murah Alok, Kota Maumere, NTT, setiap hari Selasa. Pasalnya, banyak turis yang sering mengunjungi pasar tersebut sehingga akan mempermudah penjualan kain.

Juga, peminat kain tenun ikat ini kebanyakan berasal dari mancanegara. Namun, para pengrajin tersebut belum mengerti bagaimana caranya untuk mengekspor kain tenun ikat mereka kendati banyak peminat dari mancanegara. Semoga ke depannya, bisnis kain tenun ikat dapat dikelola dengan baik sehingga dapat menjangkau peminatnya di berbagai pelosok dunia. Serta, bagi kita masyarakat Indonesia juga turut andil dalam melestarikan salah satu budaya Indonesia ini agar jangan sampai punah dan termakan zaman. (mip)

 

Sumber: Wanita

Kumparan

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *